Sleman (SIB)
Saat mengunjungi pengungsi Merapi, Presiden SBY menyempatkan diri menyambangi dapur umum. Tidak lupa, dia pun mencicipi nasi bungkus yang disediakan untuk para pengungsi.
Setelah membuka bungkusan nasi itu, SBY menyendok nasi dengan sendok plastik. “Sudah enak lauknya, tapi kalau boleh saya saran, nasinya itu ditambah,” kata SBY di dapur umum yang ada di barak pengungsian di Desa Purwobinangun, Pakem, Sleman, Yogyakarta, pada Rabu (3/11). Posko ini terletak 14-15 km dari puncak Merapi atau berada di jarak aman yang ada di kisaran 10 km. Mendengar ucapan SBY, ratusan orang yang berada di tempat tersebut pun tertawa. SBY kemudian berjalan kaki sekitar 500 meter ke pos kesehatan. Di sana, dia mengobrol dengan petugas kesehatan. SBY menanyakan stok obat dan keluhan para pengungsi.
Petugas kesehatan itu menjelaskan, stok obat masih ada. Pengungsi umumnya mengeluhkan sakit kepala dan gangguan saluran pernafasan.
SBY dan rombongan lantas melanjutkan perjalanan ke Kantor Kepala Desa Purwobinangun yang juga digunakan sebagai tempat pengungsian. Lokasi kantor kepala desa itu berseberangan dengan dapur umum. Setelah sekitar 45 menit mengunjungi pengungsi, SBY yang bersafari coklat bersama rombongan meninggalkan lokasi pukul 09.15 WIB. Dalam rombongan itu, tampak Ibu Negara Ani Yudhoyono, Menko Kesra Agung Laksono dan Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Mallarangeng. SBY meninggalkan barak pengungsian itu dengan mobil RI 1-nya menuju Posko Utama Pakem, Sleman.
SBY Sambangi Pengungsi Merapi, Tanyakan Desa Mbah Maridjan
Asap Awan panas alias wedhus gembel yang dimuntahkan Gunung Merapi pada Rabu (3/11) pagi masih terlihat jelas. Diiringi penampakan asap wedhus gembel yang terlihat jelas karena cuaca cerah itu, Presiden SBY mengunjungi pengungsi Gunung Merapi. Dalam kesempatan itu, SBY menanyakan desa Mbah Maridjan.
SBY datang ke barak pengungsian di Desa Purwobinangun, Pakem, Sleman, Yogyakarta, pukul 08.45 WIB. Dia didampingi istrinya, Ani Yudhoyono. Dalam rombongan tampak pula Menko Kesra Agung Laksono dan Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Mallarangeng.
SBY yang dibalut safari coklat menyapa pengungsi anak-anak. “Ini sekolah apa libur?” tanya SBY. “Libur, Pak.”
“Masuk, Pak,” jawab anak-anak beragam.
SBY juga sempat menyapa ibu-ibu di pengungsian itu. “Ini mengungsi dulu ya sampai aman,” kata SBY.
“Ya, Pak,” jawab para ibu itu.
SBY lantas berkeliling barak dan bersalaman dengan pengungsi. Barak pengungsian itu berdampingan dengan SD Tawangharjo yang beberapa ruang kelasnya dipakai juga untuk pengungsian.
Bupati Sleman Sri Purnomo memandu rombongan SBY sembari memberikan informasi. “Ini jaraknya sekitar 14-15 km,” jelasnya saat menjawab pertanyaan SBY berapa jarak tempat pengungsian itu dari puncak Merapi.
SBY juga menanyakan desa Mbah Maridjan. “Itu di atas kurang lebih 4-5 km. Mohon maaf tidak biasa evakuasi padahal sudah diperintahkan evakuasi,” lanjut Sri Purnomo.
SBY dan rombongan pun meninjau dapur umum. Di dapur tersebut yang memasak adalah para anggota TNI. Dari dapur umum, SBY menuju tenda yang isinya sebagian besar anak usia SD. “Selamat pagi anak-anak,” sapanya yang disambut hangat bocah-bocah itu.
Merapi Meletus Lagi, Pejabat yang Sambut SBY Tak Terpengaruh
Awan panas yang dimuntahkan Merapi ke arah Magelang Rabu pagi tidak membuat warga di sekitar Posko Utama Pakem, Sleman, Yogyakarta, panik. Begitu pula dengan ratusan pejabat yang tengah menyambut kedatangan Presiden SBY di posko yang berjarak 16 km dari Merapi tersebut. Para pejabat hanya keluar dari pendopo tempat mereka berkumpul. Mereka mendekati jalan utama, kemudian masuk kembali ke pendopo.
Usai mengunjungi pengungsian di Desa Purwobinangun, Presiden mengunjungi posko utama tersebut.Tampak salah satu dari antara pejabat, yakni Wakil Bupati Yuni Satia Rahayu. Sejumlah anggota TNI dan kepolisian setempat juga sudah berkumpul.
Tidak ada perubahan pengamanan terkait letusan kali ini. Arus lalu lintas di sekitar lokasi juga terpantau ramai lancar. Cuaca juga cukup cerah, sehingga wedhus gembel terlihat jelas.
Gunung Merapi Kembali Muntahkan Awan Panas
Gunung Merapi kembali memuntahkan awan panas atau kerap disebut wedhus gembel. Pukul 08.15 WIB, awan panas mengarah ke barat yakni ke Magelang dengan radius 1 km. Awan panas itu keluar tanpa diawali dengan dentuman.
“Untuk sementara pengungsi di wilayah Sleman masih aman. Dan belum ada laporan korban,” kata koordinator SAR Bencana Merapi Sleman, Waluyo, di posko pengungsian Purwobinangun, Sleman, Rabu (3/11). Para pengungsi di Purwobinangun langsung keluar tenda untuk menyaksikan wedhus gembel tersebut. Cuaca cerah membuat pemandangan awan panas dapat dilihat langsung secara jelas.
“Tim SAR sendiri memang sedang menyisir, biasanya pagi-pagi warga pulang untuk memberi makan ternak,” imbuh Waluyo.
Posko Kesehatan Dadakan Demokrat Sambut SBY di Pengungsian Merapi
Presiden SBY mengunjungi pengungsian Gunung Merapi, di Desa Purwobinangun, Pakem, Sleman, DIY, pukul 08.00 WIB. Di pintu gerbang pengungsian sudah tampak posko kesehatan Partai Demokrat lengkap dengan petugas yang menggunakan atribut serba biru.
Namun demikian, menurut salah satu mahasiswa relawan posko kesehatan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), posko itu baru didirikan semalam. “Itu baru Mas, baru semalam. Kita yang dari awal duluan. Kita ini sing baurekso,” kata mahasiswa.
Posko FKIK berada tepat di sebelah posko Partai Demokrat. Posko ‘dadakan’ itu terdapat tenda ukuran 15 x 5 meter dengan spanduk bertulis ‘Divisi Tanggap Darurat’. Meski tidak ada bendera partai, namun atribut rompi dan topi bertulis ‘SBY’ dan ‘Demokrat’ tampak cukup mencolok. Posko itu dijaga oleh 5 orang petugas dengan beberapa dokter.
Jalan Kinclong
Sementara itu, menjelang kedatangan SBY, jalan menuju barak dan tenda pengungsi yang mengambil tempat di SD Tawangharjo, tampak kinclong. Jalan yang sebelumnya becek karena tumpahan air dari penampungan tidak terlihat lagi. Sampah-sampah pun hilang dari pandangan mata.
Warga juga sudah dikondisikan untuk menyambut Presiden. Para orang tua sudah duduk di bawah tenda dengan beralas tikar. Siswa SD Tawangharjo juga sudah dibariskan dan diberi bendera kecil untuk menyambut kedatangan Presiden. Sementara itu, pengamanan di sekitar lokasi tidak terlalu ketat. Di Jl Watuadeg, jalan desa menuju lokasi pengungsian, tampak hanya beberapa personel TNI tak bersenjata. Namun di depan pintu gerbang pengungsian, sudah tampak 4 personel pengaman presiden lengkap dengan alat metal detector. Setiap warga yang melintas diperiksa barang bawaannya, dan ada juga yang diperiksa anggota badannya.
AWAN PANAS MELUNCUR SATU JAM TANPA HENTI
Seismograf di Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian Yogyakarta, Rabu, mencatat awan panas dari Gunung Merapi meluncur selama satu jam 15 menit tanpa henti yang merupakan awan panas dengan durasi terlama yang pernah terjadi saat erupsi Merapi.
Berdasarkan catatan dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta, awan panas tersebut mulai terjadi sekitar pukul 14.37 WIB dan hingga berita diturunkan, seismograf di BPPTK masih terus merekam luncuran awan panas dan seluruh rekaman menunjukkan “over scale”.
Sebelum muncul awan panas dengan durasi cukup lama tersebut, aktivitas Gunung Merapi mengalami peningkatan sejak pukul 00.00-12.00 WIB yaitu terjadi 38 kali luncuran awan panas.
Sejak pukul 11.12 WIB, luncuran awan panas semakin sering terjadi dengan jarak antar awan panas cukup rapat.
Seluruh petugas di pos pengamatan Gunung Merapi telah diminta meninggalkan lokasi pengamatan agar terhindar dari bahaya awan panas Merapi.
Petugas di lapangan dan juga di BPPTK yang memantau Gunung Merapi menggunakan kamera CCTV yang ditempatkan di Pos Plawangan belum dapat memastikan arah luncuran awan panas karena kondisi cuaca berkabut, hujan dan angin cukup kencang.
Kepala BPPTK Yogyakarta Subandriyo mengatakan bahwa durasi awan panas tersebut lebih lama dibanding awan panas yang keluar saat erupsi eksplosif Merapi pada 26 Oktober yaitu selama 33 menit tanpa henti.
Masyarakat tetap diminta untuk berada di luar radius 10 kilometer (km) dari puncak Gunung Merapi dan tidak beraktivitas di badan-badan sungai yang memiliki hulu di Merapi.
SATU RUMAH WARGA TERBAKAR
Satu rumah warga di Dusun Jambu, Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Rabu sore sekitar pukul 17.00 WIB terbakar akibat terkena terjangan awan panas Gunung Merapi.
“Rumah tersebut milik Ny Sugi (50) yang terletak sekitar lima kilometer dari puncak Gunung Merapi,” kata Kepala Desa Kepuharjo Heri Suprapto.
RADIUS AWAN PANAS MERAPI 9-10 KM
Radius awan panas yang meluncur dari Gunung Merapi telah mencapai jarak sekitar 9-10 kilometer (km).
Berdasarkan informasi di Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta, Rabu radius awan panas yang diluncurkan oleh Gunung Merapi selama lebih dari satu jam setengah telah mencapai jarak sekitar 9-10 kilometer (km).
“Radius awan panas yang meluncur selama lebih dari satu setengah jam ini sudah hampir mencapai Lapangan Golf Merapi,” kata Kepala BPPTK Yogyakarta, Subandriyo di Yogyakarta.
Oleh karena itu, lanjut dia, jarak aman untuk penduduk kemungkinan besar akan diperluas hingga radius 15 kilometer (km) karena sampai saat ini awan panas belum berhenti.
1.000 PENGUNGSI PANIK
Sekitar seribu pengungsi di barak pengungsian Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Rabu siang berhamburan menyelamatkan diri setelah Gunung Merapi selama satu jam lebih mengeluarkan awan panas ke arah selatan.
Para pengungsi tersebut berhamburan meninggalkan barak pengungsian karena melihat gumpalan awan panas menuju ke arah barak Desa Kepuharjo.
Pengungsi tersebut berhamburan tanpa terkoordinasi dan ada yang ke arah barat serta arah timur dengan meninggalkan kendaraan yang ada.
Menurut Sertu Saifudin dari Rumah Sakit DKT Yogyakarta yang bertugas di barak pengungsian Kepuharjo mengatakan selain para pengungsi aparat yang tugas di posko tersebut juga berhamburan.
“Anggota TNI maupun Polri yang bertugas juga berhamburan menyelamatkan diri, sampai saat ini kami belum tahu apakah ada pengungsi atau petugas yang menjadi korban, saya sendiri sudah turun jauh dari lokasi barak,” katanya. (detikcom/Ant/h)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar